Kondisi Pradaban Awal di Mesir
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mesir adalah sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya
terletak di Afrika bagian timur laut. Dengan luas wilayah
sekitar 997.739 km² Mesir mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya),
sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara.
Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur. Perbatasannya dengan
perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur.
Mayoritas penduduk
Mesir menetap di pinggir Sungai Nil (sekitar 40.000 km²). Sebagian besar
daratan merupakan bagian dari gurun Sahara yang jarang dihuni. Alasan mengapa
mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil karena lembah Sungai
Nil yang subur yang sebenarnya berabad-abad yang lalu telah di tinggali
oleh penduduk Mesir sejak
jaman Mesir Kuno. Peradaban tersebut
berlangsung sejak sekitar tahun 3500 SM sampai 343 SM. Hal ini diketahui
melalui penemuan sebuah batu tulis di daerah Rosetta oleh pasukan Prancis yang
dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Batu tulis tersebut berhasil dibaca oleh seorang Prancis yang bernama Jean Francois Champollion (1800 M) sehingga sejak
tahun itu terbukalah tabir sejarah Mesir Kuno yang berasal dari tahun 3500 SM. Sungai Nil bersumber dari suatu mata air yang tertelak
jauh di daratan tinggi Afrika Timur. Sungai Nil mengalir ke utara dan setiap
tahun mendatangkan banjir. Banjir inilah yang mengubah padang pasir menjadi
lembah-lembah yang subur. Seorang sejarawan dari Yunani bernama Herodotus menjuluki
daerah Mesir sebagai daerah hadiah dari Sungai Nil. Di muara Sungai Nil
terdapat suatu delta yang luas dan situlah terletah kota-kota penting, seperti
Kairo, Iskandarja, Abusir, dan Rosetta. Keberhasilan
peradaban Mesir kuno sebagian berasal dari kemampuannya untuk beradaptasi
dengan kondisi dari Lembah Sungai Nil. Sehingga mereka pada saat
itu dapat bertahan dan membentuk suatu sistem Pemerintahan,
Kepercayaan, IPTEK, Aksara, Astronomi dan Penanggalan, Seni Bangunan, Peninggalan
Kebudayaan dan
lain-lain yang dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk peradaban awal atau suatu
kemajuan awal yang muncul di Mesir pada saat itu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
yang telah di gambarkan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimana kondisi geografis atau lingkungan
alam yang menjadi penyebab terbentuknya suatu peradaban di Mesir Kuno ?
2.
Peradaban apa saja yang muncul pada jaman Mesir
Kuno?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kondisi
Geografis
Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia yaitu mencapai 6400 kilometer. Sungai
Nil bersumber dari mata air di dataran tinggi (pegunungan) Kilimanjaro di Afrika Timur.
Sungai Nil mengalir dari arah selatan ke utara bermuara ke Laut Tengah.
Ada empat negara yang dilewati sungai Nil yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia dan Mesir. Setiap tahun sungai Nil
selalu banjir luapan banjir itu menggenangi daerah di
kiri kanan sungai, sehingga menjadi lembah yang subur selebar antara 15 sampai
50 kilometer. Di sekeliling lembah sungai adalah gurun. Batas timur adalah gurun Arabia di tepi Laut Merah.
Batas selatan terdapat gurun Nubia di Sudan, batas barat adalah gurun Libia. Kemudian batas utara Mesir adalah
Laut Tengah. Menurut mitos, air sungai yang mengalir terus
tersebut adalah air mata Dewi Isis yang selalu sibuk menangis dan
menyusuri sungai Nil untuk mencari jenazah puteranya yang gugur dalam
pertempuran. Namun secara ilmiah, air tersebut berasal dari gletser yang
mencair dari Kilimanjaro sebagai hulu sungai Nil. Peranan
sungai Nil begitu penting bagi lahirnya kehidupan masyarakat di lembah sungai
tersebut. Maka tepatlah jika Herodotus menyebutkan “Mesir adalah hadiah sungai
Nil” (Egypt is the gift of the Nile) Kondisi Peradaban Awal di Mesir Kuno
Setelah
lembah sungai Nil mulai di tempati oleh penduduk Mesir Kuno pada saat itu.
Tentunya akan ada suatu perubahan yang muncul dari tempat itu yang berupa suatu
kemajuan kearah yang lebih baik daripada sebelumnya seperti:
1.
Pertanian
dan Pengairan
Lembah sungai Nil yang subur mendorong
masyarakat untuk bertani. Air sungai Nil dimanfaatkan untuk irigasi dengan
membangun saluran air, terusan-terusan dan waduk. Air sungai dialirkan ke
ladang-ladang milik penduduk dengan distribusi yang merata. Untuk keperluan
irigasi dibuatlah organisasi pengairan yang biasanya diketuai oleh para tuan
tanah atau golonganfeodal. Hasil pertanian Mesir adalah gandum, sekoi atau jamawut dan jelai yaitu
padi-padian yang biji atau buahnya keras seperti jagung. Untuk memenuhi
kebutuhan barang-barang serta untuk menjual hasil produksi rakyat Mesir, maka
dijalinlah hubungan dagang dengan Funisia, Mesopotamia dan Yunani di kawasan Laut Tengah. Peranan sungai
Nil adalah sebagai sarana transportasi perdagangan. Banyak perahu-perahu dagang
yang melintasi sungai Nil.
Di daerah Mesir, dengan penghidupan
pertanian, manusia benar-benar bergantung dari perairan sungai Nil. Mereka
hidup secara berkelompok dalam suatu daerah pertanian. Mereka saling
membutuhkan dan saling memenuhi satu sama lainnya. Hubungan kerja sama sangat
diperlukan. Barangkali karena itu sejak dulu di Mesir sudah terbentuk
organisasi masyarakat seperti di desa-desa. Tiap-tiap desa dikepalai oleh
kepala desa. Mereka itulah yang menarik pajak dari petani-petani dalam bentuk
hasil bumi.
2.
Sistem
Pemerintahan
Sebagai kawasan yang berbasis pertanian besar, Mesir Kuno
dipimpin oleh seorang Firaun. Di daerah-daerah terdapat 20 provinsi yang
masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur.
Firaun
Mesir Kuno berperan sebagai Raja Dewa (God Kings). Baru pada tahun 2133
SM, Firaun hanya diakui sebagai "keturunan dewa" saja. Pada mulanya,
Mesir terbagi menjadi dua, yaitu Mesir Bawah (Hilir/Utara) dengan ibu kota di
Memphis dan Mesir Atas (Hulu/Selatan) dengan ibu kota di Thebe. Sejak Firaun
Menes dari Wangsa I (3100-2890 SM) berkuasa, kedua Mesir dapat disatukan.
Penyatuan ini ditandai dengan mahkota yang dikenakan Menes berupa mahkota
bersusun dua. Pehyatuan Menes ini oleh penerusnya dikembangkan dengan ekspansi
ke Sudan, Nubia dan Libya.
Pada
masa kekuasaan Wangsa lll (2686-2613 SM), pemerintahan dipegang oleh Firaun
Joser. Saat itu, Mesir berhasil menguasai daerah Nubia Hilir.
Pada
masa pemerintahan Wangsa IV (2613-2494 SM), ada beberapa Firaun yang menonjol
di antaranya Khufu, Khafre, dan Menkaure. Pada waktu itu, Mesir berperang
dengan Nubia dan Libya. Pada tahun 1674-1567 SM, Mesir diserang dan dikuasai
oleh bangsa Hyksos.
Selanjutnya
Ahmosis I dari Wangsa XVIII (1567-1320 SM) berhasil mengusir bangsa Hyksos dan
mengembalikan kemerdekaan dan kejayaan Mesir. Firaun Thutmosis lll memperluas
kekuasaan Mesir sampai dengan tepi Sungai Eufrat.
Pada
masa pemerintahan Wangsa XX (1200 SM), kejayaan Mesir perlahan-lahan mulai
pudar. Beberapa jajahan Asia melepaskan diri, bahkan tahun 524~04 SM, Mesir
dikuasai oleh Persia.
Pada
masa pemerintahan Wangsa XXVII (404-398 SM) bangsa Persia dapat diusir dari
Mesir dengan bantuan Yunani. Pada tahun 332 SM, Alexander Macedonia menyerbu ke Asia
dan Mesir. Sejak itu Mesir dikuasai Yunani sampai dengan pemerintahan Wangsa
Ptolomaeus (dengan rajanya yang terkenal, Cleopatra). Mesir jatuh ke tangan
Romawi pada tahun 30 SM.
3.
Kepercayaan
Kepercayaan bangsa Mesir bersifat politeisme. Dewa-dewa
yang disembah bangsa Mesir, antara lain, Dewa Amon-Ra (Dewa Bulan Matahari),
Dewa Osiris (Dewa Pengadilan di Akhirat), dan Dewa Isis (Dewa Sungai). Mereka
juga percaya bahwa jiwa seseorang yang mati akan tetap hidup selama jasadnya
masih tetap- utuh. Untuk itu, mayat dibalsem atau diawetkan yang disebut mummi.
4.
Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat
Mesir Kuno telah dapat mempelajari dan mengenal tata alam lingkungan tempat
tinggalnya. Masyarakat Mesir Kuno yang hidup dari hasil bercocok tanam memiliki
banyak waktu luang untuk menambah pengetahuan tentang kehidupan baik yang
bersifat material maupun spiritual. Masyarakat Mesir Kuno percaya bahwa roh
(jiwa) orang yang sudah meninggal akan tetap hidup dan menghuni jasadnya,
apabila jasadnya tidak rusak. Oleh karena itu, pada tubuh orang yang meninggal
dimasukkan bermacam-macam ramuan dan rempah-rempah kemudian dibungkus dengan
kain sehingga berbentuk mummi yang tidak dapat rusak atau membusuk.
Mummi para bangsawan dan orang kaya disimpan dalam kubur
di batu-batu karang, yang dihiasi dengan lukisan-lukisan pahat, sedangkan mummi
raja-raja disimpan dalam bangunan yang sangat megah disebut piramida. Sistem
pengawetan dan penguburan jenazah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mesir
Kuno telah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi.
5.
Aksara
Bangsa Mesir Kuno sudah mengenal aksara yang merupakan
aksara lambang bunyi berupa aksara gambar (pictograph) yang disebut aksara
hieroglyph (gambar/ukiran suci). Aksara tersebut ditemukan pada dinding kuburan
para penguasa di Mesir Kuno. Mungkin abjad merupakan sumbangan masyarakat Mesir
yang tidak ternilai harganya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Jenis aksara hieroglyph merupakan bentuk tertua, kemudian
berkembang menjadi bentuk hieratis dan demotis, yang bentuknya lebih sederhana.
Bentuk hieratis digunakan oleh kaum pendeta sedangkan demotis digunakan oleh
rakyat.
6.
Astronomi
dan Penanggalan
Pada tahun 2776 SM, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal
penanggalan berdasarkan sistem peredaran matahari. Perlunya sistem penanggalan
dikarenakan orang Mesir Kuno yang hidup dari pertanian, yang pada setiap tahun
harus menanggulangi banjir. Mereka membagi setahun menjadi 12 bulan dan setiap
bulan terdiri dari 30 hari. Mereka juga sudah mengenal adanya tahun kabisat.
Orang-orang Mesir juga mengenal ilmu astronomi atau ilmu
perbintangan yang berkaitan erat dengan kehidupan pertanian. Misalnya, mereka
menggunakan bintang sebagai patokan untuk menentukan musim atau saat-saat
bercocok tanam dan sebagainya.
7.
Seni
Bangunan
Bangsa Mesir Kuno sangat terampil membuat bangunan
monumental seperti istana, gedung parapembesar, gudang gandum, bahkan yang
paling monumental adalah bangunan kuil pemujaan bagi dewa-dewa, kuburan para
raja, dan piramida.
Kuil pemujaan kepada dewa-dewa dibangun di daerah hulu
Sungai Nil mulai dari sekitar Thebe dengan cara memahat tebing-tebing batu.
Pada awalnya makam kerajaan hanyalah bangunan seperti panggung dari batu bata
yang disebut mastaba. Akan tetapi, sejak zaman Kerajaan Mesir Kuno, mummi
raja-raja disimpan di dalam piramida dari batu-batu besar. Bangunan piramida
dianggap sebagai "rumah keabadian". Piramida terkenal dari Mesir Kuno
dibangun di kawasan Gizeh sebagai pemakaman bagi, Firaun Khufu (Cheops),
Khafre, dan Menkaure. Di depan piramida-piramida ini ditempatkan patung-patung
sphinx (patung singa berkepala manusia).
8.
Peninggalan
Kebudayaan
a.
Tulisan
Hieroglyph
Huruf hieroglyph dipergunakan terus-menerus hingga sampai
abad ke-5 SM. Akan tetapi, karena kepercayaan masyarakat Mesir ditindas bangsa
Romawi, maka para pendeta tidak sempat lagi mempelajari huruf hierogiyph,
sehingga akhirnya dilupakan oleh orang Mesir.
b.
Piramida
Sekitar tahun 3000 SltA, raja-raja Mesir mulai membangun
piramida-piramida. Piramida yang paling besar adalah piramida Raja Khufu
(Cheops). Tinggi piramida mencapai 137 meter dan di depannya terdapat patung
sphinx, yaitu seekor singa berkepala manusia.
c.
Ilmu
Hitung
Pada awainya masyarakat Mesir menggunakan ilmu hitung
yang sangat sederhana, khususnya penambahan dan pengurangan. Selanjutnya,
dikembangkan perkalian dan pembagian. Pengetahuan ilmu ukur (geometri) mereka
telah mencapai tingkat keahlian yang cukup mengagumkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kondisi peradaban awal di
Mesir Kuno itu sangat di tentukan faktor alam yang mempengaruhi perkembangan
peradaban Mesir pada masa itu. Karena pengaruh sungai Nil yang sering sekali
banjir sehingga menyebabkan tanah di lembah itu subur. Sehingga segala hal yang
dapat dilakukan baik dari segi pertanian dan lainnya dapat berjalan dengan
baik. Sehingga itu juga berpengaruh pada hal-hal lain seperti system pemerintahan,
kepercayaan, IPTEK, seni, dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Badrika, I Wayan, Sejarah SMA Nasional dan
Umum, Jakarta: Erlangga, 2004
______________, Mesir
Kuno. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
______________, Ancient of Egypt, Wikimedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.